JAKARTA,  WRC- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan dua orang tersangka baru dalam pengembangan kasus suap terkait proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Kementrian Pekerjaan Umum dan Perum Rakyat (PUPR), pada Rabu (25/9/2019). Kedua orang tersebut yakni anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Rizal Djalil (RIZ) dan Komisaris Utama PT Minarta Dutahutama Leonardo Jusminarta Prasetyo (LJP).

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan, dalam pengembangan perkara kasusnya, ditemukan dugaan aliran dana senilai 100 Ribu Dollar Singapura kepada salah satu anggota Badan Pengawas Keuangan.

“Dalam pengembangan perkara ini, ditemukan dugaan aliran dana SGD100 Ribu ke salah satu anggota BPK,” kata Saut, pada Rabu (25/9/2019).

Saut juga menjelaskan, pada awalnya BPK menggelar audit untuk tujuan tertentu di Direktorat SPAM Kementrian PUPR pada Oktober 2016. Dari hasil audit tersebut, BPK menemukan laporan keuangan tidak wajar senilai Rp 18 Milyar. Kemudian, jumlahnya justru berkurang menjadi Rp 4,2 Milyar. Sebelum adanya perubahan tersebut, BPK diduga meminta uang senilai Rp 2,3 Milyar.

Rizal melalui perwakilannya sempat menemui Direktur SPAM Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan menyatakan keinginannya untuk ikut serta dalam proyek SPAM.

Proyek yang diminati Rizal pun adalah proyek SPAM Jaringan Distribusi Utama (JDU) Hongaria dengan pagu anggaran Rp 79,27 Milyar. Kemudian, proyek SPAM JDU Hongaria tersebut dikerjakan oleh PT Minarta Dutahutama (PT MD) dan Leonardo sebagai Komisaris Utama.

“Kemudian proyek SPAM JDU Hongaria tersebut dikerjakan oleh PT MD. Dalam perusahaan ini, tersangka LIP berposisi sebagai Komisaris Utama,” Kata Saut.

Sekitar tahun 2015-2016, Rizal sudah berkenalan dengan Leonardo. Dalam pertemuannya, LIP mengaku sebagai kontraktor proyek di Kementrian PUPR dan sempat menjanjikan uang kepada Rizal sebesar Rp 1,3 Milyar dalam bentuk Dollar Singapura.

“Uang tersebut pada akhirnya diserahkan kepada RIZ melalui salah satu pihak keluarga yaitu sejumlah 100.000 Dolar Singapura dalam pecahan 1.000 Dolar Singapura atau 100 lembar di parkiran sebuag pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan,” kata Saut.

Atas perbuatannya, sebagai pihak yang diduga penerima suap, Rizal disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sedangkan pihak yang diduga sebagai pemberi suap, Leonardo disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (Vn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.